
Penelitian Kerjasama Eksternal Luar Negeri. Judul: Movie Theater, Public Spaces and Cultural Identity: A Historiography Research on Cinema Culture and Movie Theater in Indonesia and Malaysia During 1926 to 2025
KUALA LUMPUR, 25 Januari 2026 – Tim dosen dari Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Universitas Telkom baru saja menyelesaikan rangkaian agenda Penelitian Kerjasama Eksternal Luar Negeri di Kuala Lumpur, Malaysia. Penelitian ini mengeksplorasi perkembangan budaya sinema dan ruang publik di dua negara serumpun dalam kurun waktu satu abad terakhir.
Riset Historiografi dan Dokumenter
Kegiatan yang berlangsung pada 11-14 Januari 2026 ini mengusung judul riset “Movie Theater, Public Spaces and Cultural Identity: A Historiography Research on Cinema Culture and Movie Theater in Indonesia and Malaysia During 1926 to 2025”. Fokus utama tim di lapangan adalah melakukan pengambilan data penelitian mendalam serta memproduksi film dokumenter sebagai luaran karya yang komprehensif.
Tim peneliti yang terlibat dalam proyek internasional ini terdiri dari lintas kepakaran di FKS, yaitu:
- Idola Perdini Putri, S.Sos., M.Si., Ph.D., CPS (S1 Ilmu Komunikasi).
- Adrio Kusmareza Adim, M.A., CEC., CCC (S1 Ilmu Komunikasi).
- Fiqie Lavani Melano, S.I.Kom., M.I.Kom. (S1 Digital Broadcasting).
- Nisa Nurmauliddiana Abdullah, S.I.Kom., M.I.Kom. (S1 Ilmu Komunikasi).
Validasi Akademis di Universiti Kuala Lumpur (UniKL)
Dalam kunjungannya, tim melakukan diskusi strategis dan wawancara dengan Dr. Fauzi Naeim Mohamed, ahli Visual Arts & Entertainment (VAE) di Universiti Kuala Lumpur. Pertemuan ini bertujuan untuk membedah perspektif akademis serta memvalidasi data historis terkait perkembangan budaya sinema di Malaysia guna memastikan akurasi data historiografi.
Temuan Lapangan: Bioskop sebagai Ruang Sosial
Berdasarkan observasi lapangan di Kuala Lumpur, tim menemukan perbedaan perilaku penonton dan fungsi ruang yang signifikan antara kedua negara:
- Fungsi Ruang Sosial: Bioskop di Malaysia lebih dimaknai sebagai tempat “Occasional Gathering” atau momentum khusus untuk pertemuan keluarga dan teman, berbeda dengan di Indonesia yang sudah menjadi gaya hidup harian (daily lifestyle) yang masif.
- Dinamika Industri: Secara intensitas, industri film di Malaysia saat ini terpantau tidak se-agresif dan se-populer perkembangan industri film di Indonesia.
Data lapangan dan pandangan para ahli ini akan menjadi penguat analisis komparatif dalam penelitian historiografi budaya film kedua negara dari tahun 1926 hingga 2025. Melalui riset ini, FKS Universitas Telkom diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur sejarah komunikasi dan budaya visual di Asia Tenggara.
